Cara Cepat Kaya

dengan mudah mendapatkan uang dengan tertawa

ASPEK LOKASI

Posted by caracepatkaya pada Februari 10, 2009

Ex: Lokasi 1 : Kabupaten Tuban
Kabupaten Tuban adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di kota Tuban. Luasnya adalah 1,858.40 kmĀ² dan panjang pantai mencapai 65 km. Penduduknya berjumlah hampir 1 juta jiwa. Kabupaten Tuban sebagai pintu gerbang Propinsi Jawa Timur dari arah barat yaitu dari Propinsi Jawa Tengah dilalui oleh jaringan jalan nasional dan regional yang menghubungkan Kota Lasem-Tuban-Lamongan, Tuban-Lamongan, Tuban-Jombang, Tuban-Bojonegoro. Jalan tersebut telah memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan Kabupaten Tuban pada saat ini. Jalan yang berfungsi sebagai jalan lalu linas regional perlu diawasi penggunaannya dalam kaitannya dengan perndirian bangunan yang menimbulkan hambatan lalu lintas di sepanjang jalan tersebut. Komponen jaringan jalan kota Tuban dikelola oleh Sub Dinas Bina Marga Kabupaten Tuban. Sebagai sarana moda antar kota, terdapat satu terminal regional dan satu stasiun kereta api. Tuban juga mempunyai pelabuhan untuk kelancaran transportasi laut nasional.
Tuban disebut sebagai Kota Wali karena Tuban adalah salah satu kota di Jawa yang menjadi pusat penyebaran ajaran Agama Islam. Beberapa obyek wisata di Tuban yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Makam Wali, contohnya Sunan Bonang, Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi (Palang), Sunan Bejagung dll. Selain sebagai kota Wali, Tuban dikenal sebagai Kota Seribu Goa karena letak Tuban yang berada pada deretan Pegunungan Kapur Utara. Bahkan beberapa Goa di Tuban terdapat stalaktit dan Stalakmit. Goa yang terkenal di Tuban adalah Goa Akbar, Goa Putri Asih, dan lain-lain. Tuban terletak di tepi pantai pulau Jawa bagian utara, dengan batas-batas wilayah: utara laut Jawa, sebelah timur Lamongan, sebelah selatan Bojonegoro, dan barat Rembang dan Blora Jawa Tengah
Pemerintahan
Kabupaten Tuban terdiri dari 20 kecamatan yaitu: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Grabagan, Widang.

Geografi
Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.561 Ha, dan wilayah laut seluas 22.068 km2. Letak astronomi Kabupaten Tuban pada koordinat 111o 30′ – 112o 35 BT dan 6o 40′ – 7o 18′ LS. Panjang wilayah pantai 65 km. Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban bekisar antara 0 – 500 mdpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tuban beriklim kering dengan kondisi bervariasi dari agak kering sampai sangat kering yang berada di 19 kecamatan, sedangkan yang beriklim agak basah berada pada 1 kecamatan. Kabupaten Tuban berada pada jalur pantura dan pada deretan pegunungan Kapur Utara. Pegunungan Kapur Utara di Tuban terbentang dari Kecamatan Jatirogo sampai Kecamatan Widang, dan dari Kecamatan Merakurak sampai Kecamatan Soko. Sedangkan wilayah laut, terbentang antara 5 Kecamatan, yakni Kecamatan Bancar, Kecamatan Tambakboyo, Kecamatan Jenu, Kecamatan Tuban dan Kecamatan Palang. Kabupaten Tuban berada pada ujung Utara dan bagian Barat Jawa Timur yang berada langsung di Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah atau antara Kabupaten Tuban dan Kabupaten Rembang.Tuban memiliki titik terendah, yakni 0 m dpl yang berada di Jalur Pantura dan titik tertinggi 500 m yang berada di Kecamatan Grabagan. Tuban juga dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Gresik menuju Solo.

Suku Budaya
Tuban mayoritas Suku Budayanya adalah Suku Jawa dan minoritas diantaranya adalah suku lain, seperti suku Madura, suku cina, suku Kalimantan, dll. Kebudayaan asli Tuban beragam, salah satunya adalah sandur. Budaya lainnya adalah Reog yang banyak ditemui di Kecamatan Jatirogo.

Pendidikan
Kualitas Pendidikan di Tuban tergolong sangat baik. Terbukti dengan adanya 3 sekolah yang bertaraf internasional, antara lain, SMP Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 1 Tuban, dan SMK Negeri 1 Tuban, serta puluhan SMP dan SMA yang bertaraf Nasional. Menurut rencana, ada 1 SD yang akan bertaraf internasional, yakni SD Negeri 1 Kebonsari dan 3 SMP, yakni SMP Negeri 3 Tuban, SMP Negeri 5 Tuban, dan SMP Negeri 1 Rengel. Berbagai event lomba di juarai oleh pelajar Tuban. Banyak diantaranya adalah sekolah yang berkecimpung dalam dunia Karya Ilmiah Remaja, diantaranya adalah SMP Negeri 1 Tuban, SMP Negeri 3 Tuban, SMP Negeri 4 Tuban, SMP Negeri 6 Tuban, SMP Negeri 7 Tuban, SMP Negeri 1 Rengel, SMP Negeri 1 Jenu, SMP Negeri 1 Jatirogo, SMP Negeri 1 Singgahan, SMA Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 2 Tuban, dll.

Posted in Budidaya Jagung | Komentar Dimatikan

BUDIDAYA DAN TEKNOLOGI

Posted by caracepatkaya pada Februari 10, 2009

Penelitian oleh berbagai institusi pemerintah maupun swasta telah menghasilkan teknologi budi daya jagung dengan produktivitas 4,5-10,0 t/ha, bergantung pada potensi lahan dan teknologi produksi yang diterapkan (Subandi et al. 2006). Produktivitas jagung nasional baru mencapai 3,4 t/ha (Hafsah 2004, Departemen Pertanian 2004). Salah satu faktor yang menyebabkan besarnya kesenjangan hasil jagung antara di tingkat penelitian dengan di tingkat petani adalah lambannya proses diseminasi dan adopsi teknologi. Berbagai masalah dan tantangan perlu diatasi dalam diseminasi teknologi. Teknologi yang didiseminasi untuk kepada petani pun harus memenuhi sejumlah persyaratan. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam hal diseminasi teknologi diperlukan untuk mendukung pengembangan agribisnis jagung.

TEKNOLOGI BUDI DAYA
Waktu tanam dan pola tanam merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas jagung adalah penanaman yang sering tertunda. Pada lahan kering dengan iklim kering dengan curah hujan terbatas dan eratik, penanaman jagung harus tepat waktu agar tanaman tidak mengalami kekeringan. Pada lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau, jagung sebaiknya ditanam segera setelah panen padi pada saat kondisi tanah masih lembab, dan sumur akan dibuat untuk menjamin ketersedian air bagi tanaman. Pada lahan sawah irigasi dengan air terbatas, pembuatan sumur pompa merupakan salah satu alternative yang akan dilakukan.

Penyiapan Lahan
Di daerah dengan curah hujan terbatas, penanaman jagung tidak dapat ditunda. Penundaan waktu tanam menyebabkan tanaman mengalami kekeringan atau bahkan gagal panen. Masalah yang dihadapi dalam penyiapan lahan adalah tanah yang keras pada saat kering, atau lengket pada saat basah. Dalam kondisi demikian, teknik tanpa olah tanah (TOT) dapat diterapkan. Cara penyiapan lahan sangat bergantung pada fisik tanah seperti tekstur tanah. Tanah dengan tekstur berat perlu pengolahan yang intensif. Sebaliknya, tanah dengan tekstur ringan sampai sedang dapat disiapkan dengan teknik olah tanah konservasi seperti olah tanah minimum (OTM) atau TOT. Keuntungan penyiapan lahan dengan teknik olah tanah konservasi adalah dapat memajukan waktu tanam, menghemat tenaga kerja, mengurangi pemakaian bahan bakar untuk mengolah tanah dengan traktor, mengurangi erosi, dan meningkatkan kandungan air tanah (FAO 2000). Budi daya jagung dengan teknik penyiapan lahan konservasi dapat berhasil baik pada tanah dengan tekstur ringan sampai sedang dan ditunjang oleh drainase yang baik .

Pada tanah dengan tekstur ringan, sedang, dan berat, penyiapan lahan dengan sistem TOT dan gulma disemprot dengan herbisida berbahan aktif glifosat sebanyak 3 l/ha, hasil jagung tidak berbeda antar tekstur tanah. Di beberapa tempat, hasil jagung dengan teknologi TOT lebih baik dibanding teknik olah tanah sempurna (OTS) maupun OTM. Keunggulan teknik TOT di sini adalah mengurangi biaya untuk pengolahan tanah dan pengairan. Hasil yang lebih tinggi dari teknik TOT diperoleh pada kondisi lingkungan tumbuh tanaman yang lebih baik, terutama dari aspek kecukupan lengas tanah. Penanaman jagung dengan teknik TOT lebih awal satu bulan dibanding OTS, sehingga sisa air setelah padi dapat dimanfaatkan oleh tanaman jagung. Mundurnya waktu penanaman pada teknik OTS karena menunggu turunnya lengas tanah untuk dapat diolah.

Varietas
Di antara komponen teknologi produksi, varietas unggul mempunyai peran penting dalam peningkatan produksi jagung. Perannya menonjol dalam potensi hasil per satuan luas, komponen pengendalian hama / penyakit (toleran), kesesuaian terhadap lingkungan, dan preferensi konsumen. Kini telah banyak benih varietas unggul jagung yang dipasarkan. Dari segi jenisnya, dikenal dua jenis jagung yakni hibrida dan komposit (sari bebas). Dibanding jenis komposit, jagung hibrida umumnya mempunyai kelebihan dalam hal potensi hasil yang lebih tinggi dan pertumbuhan tanaman lebih seragam. Meskipun potensi hasilnya lebih rendah dibanding hibrida, jagung komposit unggul yang dilepas oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) berdaya hasil cukup tinggi, mencapai 7,6-8,4 t/ha.

Populasi dan Cara Tanam
Salah satu upaya untuk mendapatkan hasil optimum adalah mengatur populasi tanaman. Secara umum, kepadatan tanam anjuran adalah 66.667 tanaman/ha. Ini dapat dicapai dengan jarak tanam antar baris 75 cm, dan 20 cm dalam barisan dengan satu tanaman per rumpun, atau jarak antarbaris 40 cm dengan dua tanaman per rumpun. Pemanenan secara berkala dilakukan selama 30-45 HST untuk produksi hijauan sambil menjarangkan tanaman hingga kepadatan 66.667 tanaman/ha untuk produksi biji. Hal ini dianjurkan pada musim kemarau, pada saat rumput kurang tersedia bagi ternak dan petani mempunyai ternak. Cara ini mendukung sistem integrasi jagung-ternak (sapi, kerbau, dan kuda).

Balitsereal telah merancang alat tanam ATB1-2RBalitsereal yang dapat dioperasikan pada lahan kering maupun sawah setelah panen padi. Alat tanam ini dapat mengolah tanah secara sempurna maupun secara minimum. Kapasitas kerja alat berkisar antara 8-10 jam/ha, bergantung pada kondisi lahan dan ketrampilan operator. Dalam pengoperasiannya, alat ini digandengkan pada traktor tangan. Agar alat dapat bekerja dengan baik, tanah harus bersih dari sisa-sisa tanaman (brangkasan, tunggul, dan akar semak belukar) dan tidak berbatu.

Pemupukan
Pemupukan secara berimbang dan rasional merupakan kunci utama keberhasilan peningkatan produktivitas jagung. Kadar unsur hara di dalam tanah, jenis pupuk/hara yang sesuai, dan kondisi lingkungan fisik, khususnya pedo-agroklimat, merupakan faktor penting perlu diperhatikan dalam mencapai produktivitas optimal tanaman. Analisis kimia tanah merupakan informasi yang dapat membantu dalam mengevaluasi kondisi tanah bagi pertumbuhan tanaman. Dalam praktek pemupukan, yang perlu diperhatikan adalah jenis pupuk dan takaran optimum pada jenis tanah dan lingkungan tertentu. Untuk itu, penelitian laboratorium, rumah kaca, dan lapangan sangat diperlukan.

Analisis kimia tanah merupakan teknik diagnostik untuk mengelola dan memecahkan masalah keharaan. Analisis kimia tanah harus dilengkapi dengan informasi tentang tanah, tanaman, dan analisis tanaman. Contoh tanah untuk dianalisis harus cukup mewakili areal tertentu, khususnya jenis tanah dengan penyebaran cukup luas. Hasil analisis tanah perlu dilanjutkan ke penelitian pot di rumah kaca, dan dikalibrasi di lapang untuk menentukan takaran optimum pupuk pada jenis tanah tertentu. Rangkaian penelitian ini merupakan cara terbaik untuk menghemat biaya, tenaga, dan waktu yang diperlukan dibanding jika penelitian langsung dilakukan di lapang. Teknik ekstrapolasi, di mana hasil penelitian pada suatu jenis tanah dengan kondisi lingkungan fisik dan biologi tertentu, dapat diterapkan pada jenis tanah
dengan kondisi lingkungan dan pengelolaan yang sama di tempat lain. Lahan pertanian umumnya tidak mengandung cukup N, kecuali pada lahan yang baru dibuka dari vegetasi hutan. Pada tanah Latosol, Vulkanis, Mediteran, dan Podsolik, pemberian pupuk urea dengan takaran 200-400 kg/ha memberikan efisiensi pemupukan (setiap kg hasil jagung yang diperoleh dari setiap kg pupuk urea yang diberikan) 6,0-7,5. Hasil penelitian di Maros dengan menggunakan tiga varietas hibrida dan dua varietas komposit menunjukkan bahwa takaran pupuk urea yang optimal untuk varietas hibrida adalah 420 kg/ha sedangkan untuk varietas komposit 350 kg/ha.

Berbeda dengan N, pemberian pupuk P perlu dicermati karena tidak semua tanah memerlukan tambahan pupuk P. Pada lahan kering jenis tanah Vulkanis di Malang, tanaman jagung kurang tanggap terhadap pemberian P. Pada tanah berkapur, pemberian TSP dengan takaran 100-200 kg/ha masih menunjukkan efisiensi pemupukan yang memadai. Pengaruh pemupukan P sangat nyata pada tanah Podsolik yang ditunjukkan oleh tingginya efisiensi pemupukan yaitu 9,5-14,6 kg biji/kg pupuk hingga takaran 300 kg TSP/ha. Pada tanah Podsolik, ketersediaan P merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, sebab selain kandungannya sangat rendah, tanah ini juga sangat kuat mengikat P, sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Nilai kritis P dalam tanah adalah 9,0 ppm. Apabila kadungan P tanah kurang dari 9,0 ppm, pemberian pupuk P mutlak diperlukan (Akil et al. 2002).

Seperti halnya pupuk P, pemberian pupuk K juga harus dicermati, karena pemupukan K pada umumnya kurang memberikan tanggapan, kecuali pada tanah Grumusol dengan K-dd (K dapat ditukar) 0,24 me/100 g, tanah Aluvial dengan K-dd 0,27 me/100 g, dan tanah Podsolik dengan K-dd kurang dari 0,30 me/100 g. Pada tanah-tanah tanggapan tersebut, pemberian 50-100 kg KCl/ha memperlihatkan efisiensi yang tinggi, terutama pada tanah Grmusol (37,2) dan Podsolik (16,0). Untuk efisiensi pemupukan, jenis dan takaran pupuk yang diberikan hendaknya didasarkan pada hasil analisis / uji tanah. Namun pendekatan itu dihadapkan kepada: (a) keterbatasan areal yang tanahnya telah dianalisis, (b) perubahan status hara tanah sejalan dengan lama pemanfaatan dan pengelolaan hara, dan (c) sulitnya petani membiayai analisis tanahnya sendiri. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan lain, misalnya dengan petak
omisi yang dapat dikerjakan sendiri oleh petani/kelompok tani. Kandungan bahan organik pada lahan yang diusahakan secara intensif umumnya rendah, sehingga pemberian pupuk organik memegang peranan penting untuk meningkatkan produktivitas lahan. Pengaruh positif pemberian pupuk kandang dan pupuk hijau dalam takaran tinggi (5-20 t/ha) telah dilaporkan oleh sejumlah peneliti. Pada tanah Aluvial, pemberian kotoran sapi atau pupuk hijau dari daun gamal dengan takaran 5-20 t/ha dapat menggantikan 100-200 kg pupuk urea/ha (Akil et al. 2003). Pemberian pupuk kandang sebanyak 5 t/ha atau lebih adalah suatu hal yang tidak mudah dilakukan petani karena terkait dengan ketersediaan, harga, maupun pengangkutannya. Sebab itu, pemberian pupuk kandang, atau abu jerami padi sebagai penutup biji jagung pada lubang tanam sebanyak 1-3 t/ha dinilai optimal (Akil et al. 2004).

Waktu dan Cara Pemberian Pupuk
Di beberapa tempat di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan masih banyak petani yang memupuk dengan cara menyebar di atas permukaan tanah, sehingga sebagian besar pupuk yang diberikan menguap dan tidak dapat diserap tanaman. Di Kediri, petani memupuk tanaman jagung dengan takaran sampai 750 kg urea/ha yang diberikan lima kali. Pemberian pupuk urea sebaiknya tiga kali pada 7, 25, dan 40 hari setelah tanam (HST) atau dua kali pada 7 dan 35 HST, ditugal 7-10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah. Pupuk P dan K diberikan pada 7 HST. Pupuk organik diberikan pada saat tanam sebagai penutup benih atau lubang tanam.

Pengairan
Pengairan tanaman jagung pada musim kemarau bersumber dari air tanah yang dipompa maupun air permukaan dari jaringan irigasi. Agar distribusi air lebih efektif ke tanaman, petani umumnya membuat saluran air di antara barisan tanaman dengan menggunakan cangkul atau bajak ditarik ternak. Pembuatan saluran dengan cangkul memerlukan waktu 176 jam/ha, sedangkan dengan bajak ditarik ternak 24 jam/ha, dengan tingkat efisiensi irigasi hanya 46,2%. Balitsereal telah merancang prototipe alat pembuat alur irigasi yang sangat efisien, yaitu PAI-R-Balisereal dan PAI-2R Balisereal (Firmansyah et al.
2002). Pemberian air pada musim kemarau dilakukan dengan cara memompa air dari air tanah dengan kedalaman sumur 3,8-9,0 m. Jenis pompa yang umum digunakan adalah pompa sentrifugal dengan diameter 2,0 inci (4,0 HP) dan diameter 3,0 inci (5,0 HP).

Lahan sawah yang air irigasinya terbatas atau lahan sawah tadah hujan yang dilengkapi sumur dangkal sebaiknya ditanami jagung pada musim kemarau atau setelah panen padi. Pengairan untuk tanaman jagung pada musim kemarau perlu memperhitungkan efisiensi penggunaan air dan tenaga kerja/biaya. Selama pertumbuhannya, tanaman jagung memerlukan pengairan yang cukup. Lahan irigasi dengan sumber air terbatas dan lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau memerlukan pengairan hingga
mencapai kapasitas lapang sebanyak empat kali, yaitu pada umur 15, 30, 45, dan 60 HST (Akil et al. 2005).

Pengendalian Gulma
Tanpa pengendalian gulma, pertumbuhan tanaman jagung tertekan sehingga hasilnya rendah. Oleh sebab itu, pengendalian gulma mutlak diperlukan, apalagi pada budi daya tanpa olah tanah. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual seperti penyiangan menggunakan cangkul atau bajak, atau secara mekanis menggunakan alat, mesin, dan secara kimiawi menggunakan herbisida. Dari segi teknis, penyiangan dengan herbisida tidak berbeda dengan penyiangan secara mekanis. Takaran dan jenis herbisida yang digunakan bergantung pada jenis gulma, kepadatangulma, dan anjuran penggunaan masing-masing herbisida. Penyemprotan herbisida untuk pengendalian gulma sebaiknya dilakukan dua kali, masing-masing pada saat tanaman berumur 21 dan 42 HST.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit penting tanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang, dan bulai. Lalat bibit dapat dikendalikan dengan aplikasi insektisida karbofuran 0,15-0,30 kg ba/ha yang diberikan pada lubang pada saat tanam. Aplikasi karbofuran dengan takaran 0,5-10 kg ba/ha saat tanaman berumur 7 HST, dapat mengendalikan penggerek batang (Subandi et al. 1998). Pencegahan penyakit bulai dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan secara serempak pada hamparan luas, memusnahkan tanaman sakit, dan perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaxyl dengan takaran 2,5 g/kg benih dicampur dengan 10 ml air yang disuspensikan dan dicampur dengan benih secara merata pada saat tanam.

Panen
Panen dilakukan pada saat biji telah masak fisiologis yang ditandai oleh adanya black layer pada biji. Panen merupakan tahap awal yang penting dari seluruh rangkaian penanganan pascapanen jagung, karena berpengaruh terhadap jumlah dan mutu hasil. Panen terlalu awal menyebabkan jumlah butir muda banyak, sehingga mutu biji dan daya simpannya rendah. Sebaliknya, terlambat panen mengakibatkan penurunan mutu dan peningkatan kehilangan hasil. Secara umum, saat panen yang tepat ditentukan oleh tingkat kemasakan biji, namun yang utama adalah berdasarkan penampilan visual, yaitu menuanya klobot atau bagian-bagian tanaman secara keseluruhan, mulai dari daun yang telah berwarna kecoklatan. Tanda-tanda jagung siap panen: (a) umur tanaman mencapai maksimum, yakni setelah pengisian biji optimal; (b) daun menguning dan sebagian besar mulai mengering; (c) klobot sudah kering atau kuning; (d) bila klobot dibuka, biji terlihat mengkilap dan keras, bila ditekan dengan kuku tidak membekas pada biji; dan (e) kadar air biji 25-35%.

Posted in Budidaya Jagung | Leave a Comment »

Cara Cepat Kaya

Posted by caracepatkaya pada Februari 9, 2009

Posted in Pengiklanan | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.